“PLN bangsat...“
Atau
“ini listrik kapan nyalanya….“
Atau
“pemadaman lagi..? capek deh…“
Atau
“telah berpulang ke rahmatullah listrik di desa kami #PLN “
Akhir-akhir ini status di plurk, twitter atau facebook, kebanyakan isinya tentang keluhan atau protes ke PLN. Gara-gara pemadaman bergilir hampir di seluruh wilayah Jakarta, banyak warga merasa di rugikan. Rakyat biasa saja merasa di rugikan, apalagi pelaku industri seperti pabrik atau pelaku usaha tingkat menengah dan kecil.

awas nyetrum
Listrik dan Perekonomian
Tidak bisa di pungkiri lagi, listrik adalah kebutuhan mendasar manusia selain minum air dan buang air. (bisa bayangkan minum atau ga pipis selama 1 minggu? )
Menurut ketua umum HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia), pemadaman listrik sekarang di nilai bisa mengakibatkan deindustrilisasi. Akibat kurang listrik, pabrik-pabrik berkurang hasil produksinya. Kalau produksi berkurang, maka target pertumbuhan ekonomi juga bisa berkurang. Kalau pertumbuhan ekonomi berkurang, maka investor asing atau dalam negeri makin malas untuk berinvestasi di Indonesia. Padahal sebelum ada masalah listrik, investasi di Indonesia sudah sering menemui kendala di sisi infrastuktur, birokrasi, regulasi, dan ketidak pastian hukum. Apalagi sekarang di tambah kendala sumber energi. Makin males aja untuk berinvestasi di Indonesia…kalau ga ada investasi? Apa perekonomian bisa tumbuh?
Sungguh pilu sayah memikirkannya, ceileh ‘pilu’…kaya lagu-lagu lawas ajah. “pilu aku pilu..pada semut merah, yang berbaris di dinding…“
Padahal tahun ini Indonesia di beri kehormatan untuk menjadi anggota G-String, G20. katanya sih negara-negara anggota G20, adalah negara yang di percaya akan mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat di masa mendatang. Masa mendatang ini ga tau 20 tahun lagi..ga tau 50 tahun lagi..yang penting mah masa depan. Tapi gimana mau pesat pertumbuhannya, kalau membenahi listik negara ajah kitah ga mampu.

GI Cawang
Gardu Induk Cawang
Penyebab utama pemadaman bergilir di wilayah Jakarta ini di karenakan meledaknya Gardu Induk (GI) di Cawang pada September lalu. Sayah tanya ke temen yang kerja di PLN, ” ko bisa meledak? Ada yang maen kembang api deket2 situ ?” , terus di jawab “ya ampun, polos sekali pikiran mu nak. Meledak gara-gara trafonya kelebihan beban tau“.
Jadi meledak bukan kesengajaan atau sabotase dari luar, seperti ngelempar merecon a.k.a petasan ke minyak di trafo. Tapi murni kelebihan beban.
Kelebihan beban mengakibatkan trafo terlalu panas,sehingga terjadi dielectric losses dan thermal instability lalu memuaikan seal yang menyebabkan minyak trafo merembes ke atas, dan mengakibatkan pemanasan lebih besar karena minyak bercampur dengan gas sehingga terjadi ledakan pada bushing. Ledakan bushing ini mengakibatkan kebocoran minyak lebih parah karena posisi tangki minyak berada di atas sehingga menimbulkan kebakaran lebih besar. Ledakan ini juga menyebabkan konduktor Gas Insulated Line (GIL) lepas dan menyentuh bodi sehingga terjadi hubungan singkat fasa satu ke tanah.
Sedaaaap…penjelasannya ilmiah banget, kesannya sayah ahli di bidang listrik, padahal mah copy paste dari sini.
Karena gardu cawang tidak bisa berfungsi lagi. Maka beban listrik di alihkan ke Gardu Induk lain seperti di Gandul, Kembangan, Bekasi dan Depok. Tapi ternyata itu tidak cukup, sehingga gardu induk di daerah jawa dan bali (terutama Jawa Barat dan Banten) ikut juga membackup pasokan listrik di sana.
Akibatnya, beban GI daerah lain pun bertambah. Supaya tidak meledak seperti di cawang, maka pemadaman listrik bergilir pun di mulai. Tapi bukan di Jakarta saja, akhirnya daerah lain di pun ikut merasakan pemadaman ini.

lilin-lilin kecil
Kelebihan Beban Pada Trafo
Trafo yang meledak di Cawang sebetulnya sering banget gangguan sebelum meledak.di karenakan bebannya sudah over limit, setiap hari di bebankan rata-rata 90% dari kapasitas. Kenapa bisa kelebihan beban? Apa lagi penyebabnya kalau bukan penggunaan listrik oleh masyarakat secara berlebihan. Masyarakat sendiri kadang tidak mau atau bahkan tidak peduli pentingnya menghemat listrik. Bahkan sekedar mengurangi beban dengan mematikan dua buah lampu pada pukul 17.00 - 22.00 kadang kita lupa. AC di ruangan yang tidak ada orangnya tetap menyala. TV kadang menyala sampai shubuh, padahal ga ada yang nonton. Jadi murnikah salah PLN ? atau karena kelalaian kita juga?
Anggaran Trafo Baru
Solusi beban ini sebenernya bisa di atasi dengan membeli trafo baru, jadi ga ada ceritanya kelebihan beban.
Tapi uang dari mana? Dari uang yang kita bayar tiap bukan ke PLN ? uangnya sudah habis untuk biaya operasional dan membangun jaringan baru, masih banyak daerah-daerah terpencil di Indonesia yang belum terjamah listrik. itu pun kalau bener duitnya untuk bikin jaringan atau investasi buat bikin Gardu Induk / Trafo baru. kalau di korupsi?
Kan ada KPK ? KPK lagi sibuk ngurusin dua pemimpinnya yang di tangkap polisi.
Serba salah memang. Susah yee hidup di Indonesia.
Sekarang mah mendingan kita hemat listrik dan berharap pasokan listrik kembali seperti sedia kala.
*penulis bukan pegawai PLN, bukan suruhan PLN, bukan ahli arus kuat, mata kuliah rangkaian listrik aja cuma dapet C. murni hanya mengajak pembaca melihat dari sisi yang lain*
sumber :
-ceting dengan temen yang ahli masalah setrum-menyetrum


